Kompromi di antaranya akan menghasilkan sesuatu antara
yang ideal dan yang praktis.
Metodologi sangat penting dalam sebuah penelitian
karena metodologi akan digunakan sebagai (Frankfort-Nachmias & Nachmias,
1996)
(a) Aturan komunikasi. Metodologi merupakan alat komunikasi sesama
peneliti untuk berbagi pengalaman dalam melakukan penelitian. Ketika peneliti
menuliskan metodologi yang digunakan secara jelas, dapat diakses oleh peneliti
lain, maka kemungkinan replikasi
penelitian dan validasi temuan penelitian dapat dilakukan.
(b) Aturan penalaran.
Meskipun observasi empiris sangat fundamental dalam penelitian ilmiah, namun
fakta, data, atau bukti yang ditemukan tidak bisa “berbicara” dengan
sendirinya. Karenanya, dalam hal ini, dibutuhkan logika untuk menarik inferensi yang reliabel berdasar fakta hasil
observasi.
(c) Aturan intersubjektivitas.
Karena kemungkinan adanya subyektivitas terlibat dalam penelitian, maka dengan
metodologi yang jelas, validasi bisa dilakukan oleh peneliti lain untuk
menjamin obyektivitas empiris. Hal ini berarti ada hubungan saling-tergantung
antara obyektivitas dan validasi.
2.1 Kuantitatif versus Kualitatif
Metode penelitian dapat dikelompokkan dengan cara yang
beragam, namun demikian pengelompokan yang paling sering digunakan adalah (a)
metode kuantitatif dan (b) metode kualitatif.
Secara umum,
metode kuantitatif yang berasal dari ilmu-ilmu alam dikembangkan untuk
mempelajari fenomena alam. Contoh metode kuantitatif yang sekarang diterima
luas dalam ilmu-ilmu sosial adalah metode survei, eksperimen laboratorium,
metode formal (seperti ekonometri) dan metode numerik seperti pemodelan
matematis.
Pendekatan kuantitatif digunakan hampir pada semua
penelitian dalam bidang sistem informasi pada tahap awal perkembangannya.
Pendekatan kuantitatif didasari asumsi bahwa dunia luar terdiri dari struktur
yang dapat disentuh yang tidak tidak tergantung kepada kognisi manusia.
Sebaliknya, metode kualitatif awalnya dikembangkan
dalam bidang ilmuilmu sosial untuk mempelajari fenomena sosial dan budaya.
Contoh metode kualitatif adalah penelitian tindakan (action research), studi kasus, dan etnografi. Sumber data kualitatif
antara lain adalah observasi, wawancara, kuesioner, dokumen, dan pengalaman
peneliti.
Pendekatan kualitatif (soft approach) dalam penelitian sistem informasi sangat berbeda
dengan pendekatan kuantitaif. Pendekatan ini
baru sekitar tahun 1998 diakui secara ”resmi” sejajar oleh komunitas
sistem informasi (Avison, Lau, Myers, & Nielsen, 1999).
Premis utama pendekatan ini adalah bahwa peneliti
mencoba memahami secara mendalam fenomena yang diteliti dalam setting yang alami. Karenanya pendekatan ini juga dapat dikategorikan
sebagai pendekatan fenomenologi.
Pendekatan fenomenologi memfokuskan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan
“mengapa?” dan ”bagaimana?”. Metode yang digunakan dalam pendekatan ini adalah
studi kasus (case study).
Beberapa karakteristik pendekatan
kualitatif adalah:
1. Kejadian
dilihat dari perspektif subyek
2. Penggambaran
kejadian dilakukan dengan detil dan informasi kontektual menjadi sangat penting
3. Kejadian
dipahami dalam konteks di mana terjadi
4. Fokus
diarahkan pada proses, sehingga kehidupan sosial dilihat sebagai serangkaian
kejadian yang saling terkait
5. Proses
penelitian fleksible dan relatif tidak terstruktur
6. Teori
dan konsep yang digunakan dalam penelitian yang menggunakan pendekatan ini
dapat:
(a) diformulasikan
lebih dahulu (a priori) dan diuji;
(b) diformulasikan
dan digunakan sebagai kerangka penjelasan;
(c) diformulasikan
dan diadopsi sebagai bagian proses; dan
(d) hasil dari penelitian itu sendiri (grounded theory).
Dalam literatur, metode penelitian juga dikelompokkan
dengan kriteria yang berbeda. Metode penelitian dapat dikelompokkan ke dalam
metode obyektif dan subyektif. Dari sisi penekanan, penelitian dapat dilakukan
dengan penekanan pada penemuan hukum-hukum (nomothetic)
dan sebaliknya ditekankan pada keunikan situasi tertentu yang diteliti (idiographic). Dari sudut pandang posisi
peneliti terharap obyek penelitian, penelitian dapat dilakukan dengan
mengasumsikan peneliti sebagai outsider (etic)
dan peneliti sebagai insider (emic).
Pengelompokan dengan kriteria lain memunculkan dikotomi positivist-
interpretivist,
exploratory-confirmatory, induction-deduction, field-laboratory, dan relevance-rigour (Fitzgerald
& Howcroft, 1998). Diskusi masih terus berjalan terkait dengan dikotomi
metode-metode penelitian ini.
Kedua kelompok metode ini berbeda dalam berbagai hal,
baik pada tingkat ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Ontologi membahas
tentang apa yang ingin diketahui. Epistemologi akan menjawab tentang bagaimana
pengetahuan tersebut dapat didapat, sedang aksiologi terkait dengan nilai atau
manfaat yang bisa didapatkan dari pengetahuan tersebut. Ontologi sering disebut
sebagai teori tentang ”ada”, epistemologi sebagai teori tentang pengetahuan,
dan aksiologi sebagai teori tentang nilai. Secara singkat ketiga tingkat
tersebut dapat dirumuskan dalam ketiga pertanyaan berikut (Suriasumantri,
1992):
1. Ontologi:
apakah yang ingin kita ketahui?
2. Epistemologi:
bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan?
3. Aksiologi:
apa nilai pengetahuan tersebut bagi kita?
Masing-masing pendekatan
dengan basis filosofis yang berbeda-beda juga mempunyai kelebihan dan
kekurangannya.
Basis filosofis yang berbeda ini menyebabkan
penggunaan metode yang berbeda dalam operasionalisasinya (e.g. Fiztgerald &
Howcroft, 1998; Nunamaker, Chien, & Purdin, 1990; Walsham, 1995).
Pendekatan pertama yang bersifat kuantitif sering juga disebut dengan hard approach, sedang yang kedua disebut
dengan soft approach. Perbedaan kedua
pendekatan ini dirangkum dalam Tabel 2.
Tabel 2. Perbedaan pendekatan penelitian
soft dan hard
Soft approach
|
Hard approach
|
Tingkat ontologis
|
Relativist
Kepercayaan bahwa banyak realitas yang maujud sebagai konstruksi
subyektif pikiran manusia. Istilah-istilah yang disebarluaskan dalam
masyarakat mengarahkan bagaimana realitas dipersepsikan dan hal ini akan
berbeda antar budaya yang berbeda.
|
Realist
Kepercayaan bahwa dunia terdiri dari struktur yang hard, kasat mata
(tangible) yang maujud bebas dari penilaian individual.
|
Tingkat epistemologis
|
Interpretivist
Tidak terdapat kebenaran yang universal.
Pemahaman dan penginterpretasian didasarkan pada kerangka pikir yang
dimiliki peneliti.
Netralitas adalah sesuatu yang tidak mungkin.
Realisme dalam konteks penelitian sangat penting.
|
Positivist
Kepercayaan bahwa dunia terdiri hukum kausalitas yang pasti.
Kompleksitas masalah dapat didekati dengan reduksionisme. Menekankan kepada
obyektivitas, pengukuran, dan perulangan.
|
Tabel 2. lanjutan.
Soft approach
|
Hard approach
|
Subjectivist
Sulit
membedakan antara peneliti dan situasi penelitian. Temuan penelitian berasal
dari interaksi antara peneliti dan situasi penelitian, dan nilai dan
kepercayaan yang diyakini peneliti sangat berperan.
|
Objectivist
Bagi
peneliti, mengambil jarak dengan situasi penelitian adalah sesuatu yang
mungkin dan penting. Observasi yang netral dan tidak bias harus dilakukan
oleh peneliti.
|
Emic/Insider/Subjective
Berasal
dari antropologi. Arah penelitian berdasar pada pandangan orang dalam
(insider), yang kemudian dipadang sebagai sesuatu yang diperlukan untuk
menentukan kecukupan penelitian.
|
Etic/Outsider/Objective
Berasal dari antropologi. Arah penelitian didasarkan pada pandangan
orang luar (peneliti) yang dianggap obyektif dan analis yang cocok untuk
penelitian.
|
Tingkat metodologis
|
Qualitative
Menentukan
hal apa yang ada dan bukan berapa jumlahnya. Sangat deskriptif. Kurang
terstruktur dan lebih responsive terhadap situasi penelitian.
|
Quantitative
Penggunaan teknik statistik untuk mengidentifikasi fakta dan
hubungan kausalitas. Sampel berukuran besar dan lebih representatif. Temuan
penelitian dapat digeneralisasi kepada populasi yang lebih luas dengan
batasan kesalahan tertentu.
|
Exploratory
Menekankan
kepada penemuan pola pada data penelitian dan menjelaskan/memahami pola
tersebut. Mendasarkan pada landasan deskriptif.
Dapat
mengarah kepada perumusan hipotesis.
|
Confirmatory
Menekankan kepada pengujian hipotesis dan verifikasi teori.
Cenderung menggunakan metode positif dan kuantitatif.
|
Induction
Dimulai
dengan kasus spesifik yang kemudian digunakan dalam generalisasi dengan
tingkat propabilitas tertentu. Bukti baru memungkinkan konklusi direvisi.
|
Deduction
Menggunakan temuan-temuan umum untuk melihat kasus-kasus
spesifik. Sebuah argumen adalah valid
jika tidak mungkin konklusi tidak mungkin salah jika premisnya bernilai
benar. Berhubungan dengan verifikasi/falsivikasi teori dan pengujian
hipotesis.
|
Field
Menekankan
pada realisme konteks pada situasi yang alami, tetapi presisi dalam kontrol
variabel dan pengukuran prilaku tidak dapat dilakukan.
|
Laboratory
Pengukuran
dan kontrol variabel yang tepat, tetapi tetap memperhatikan sifat alami
situasi penelitian, karena intensitas dan variasi dunianyata tidak mungkin
dibuat.
|
Idiographic
Perspektif
yang individual-centered konteks yang alami dan metode kualitatif untuk
mengetahui pengalaman unik subyek penelitian.
|
Nomothetic
Perspektif yang group-centered menggunakan lingkungan yang
terkendali dan metode kuantitatif untuk membuat hukum yang berlaku umum.
|
Tingkat aksiologis
|
Relevance
Lebih
menekankan kepada validitas rumusan masalah dan relevansinya ke dalam dunia
praktis, daripada memfokuskan kepada metode yang setepat-tepatnya (rigorous)
dalam penelitian.
|
Rigour
Penelitian
dicirikan oleh pengujian hipotesis secara deduktif sesuasi dengan paradigma
positivis dengan menekankan kepada validitas internal melalui kontrol
eksperimen yang ketat dan teknik kuantitatif.
|
Sumber: Fitzgerald & Howcroft
(1998)
Pada Tabel 2 jelas terlihat bahwa setiap pendekatan
mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pendekatan kuantatif
mengasumsikan adanya penomena dimana faktor-faktor yang terlibat di dalamnya
mempunyai hubungan yang pasti, dapat diobservasi, dan dapat dipelajari
menggunakan metode yang terstruktur (Orlikowski & Baroudi, 1991).
Pendekatan ini biasanya menguji serangkaian proposisi atau hipotesis dengan
sampel tertentu yang kemudian digeneralisasi pada populasi yang lebih luas.
Metode kuantitif akan memudahkan penelitian untuk fokus pada topik yang
spesifik (Marble, 2000). Namun metode ini tidak bisa menangkap fenomena dinamis
yang terjadi. Di sinilah pendekatan kualitatif diperlukan. Karenanya, meskipun
banyak peneliti menggunakan salah satu metode ini dalam melakukan penelitian,
beberapa peneliti menganjurkan penggunaan triangulasi (triangulation) dengan
menggabungkan kedua metode ini sekaligus.
Diskusi tentang penggunaan kedua pendekatan penelitian
ini tetap berlanjut dalam banyak literatur. Kecenderungan terakhir
mengindikasikan bahwa kedua metode ini tidak seharusnya dilihat sebagai dua
yang yang bertolak belakang, melainkan bisa saling melengkapi (e.g. Fitzgerald
& Howcroft, 1998; Tashakkori & Teddlie, 1998). Setiap metode atau
gabungan keduanya akan tepat digunakan dalam situasi dan maksud penelitian yang
berbeda.
Di Indonesia, meskipun belum ada studi khusus tentang
penggunaan kedua pendekatan ini, namun dalam beberapa jurnal ilmiah terkait
dengan studi teknologi informasi dan sistem informasi sangat jelas
kecenderungan bahwa metode kuantitatif lebih banyak digunakan daripada metode
kualitatif.
2.2 Konstruktivis
Pendekatan konstruktivis merupakan pendekatan yang
belum banyak dikaji dalam literatur sistem informasi. Secara umum penelitian
dengan pendekatan ini akan menghasilkan sebuah konstruk, model, metode, atau
operasionalisasi ketiganya ke dalam sebuah contoh (March & Smith, 1995).
Pendekatan ini juga tidak sepenuhnya berbeda dengan kedua pendekatan yang telah
dibahas sebelumnya karena terdapat irisan antara metode ini dengan kedua metode
yang telah diuraikan di atas.
Penelitian teoritis yang menghasilkan model konseptual
dan pengembangan software dalam dimasukkan dalam penelitian dengan pendekatan konstruktivis.
Namun demikian, pendekatan konstruktivis lebih dari sekedar menghasilkan model
atau software. Proses pengujian implementasi sebuah software atau sistem
informasi dalam konteks organisasi atau pengguna merupakan bagian integral dari
penedekatan dilakukan. Sebagai contoh, ketika sebuah aplikasi sistem pendukung
keputusan telah maka efektivitas aplikasi ini harus juga diuji, termasuk
terkait dengan tingkat penerimaan pengguna dan manfaat nyata yang dirasakan
oleh pengguna.
3. PENUTUP
Secara umum terdapat dua metode penelitian dalam
bidang sistem informasi, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Kedua metode ini
seharusnya dapat digunakan bersama-sama untuk saling menguatkan. Dalam beberapa
literatiur mutakhir sistem informasi, diperkenalkan juga metode konstruktivis
digunakan untuk menghasilkan konstruk, model, metode baru. Metode kontruktivis
ini juga dalam bagian operasionalisasinya dapat menggunakan metode kuantitatif
dan kualitatif.
PUSTAKA
Avison, D. E., dan Myers,
M. D. (1997). Information Systems and Anthropology: An Anthropological
Perspectives on IT and Organizational Culture. Information Technology & People, 10(3), 43-56.
Avison, D. E., Lau, F., Myers,
M. D., dan Nielsen, P. A. (1999). Action Research. Communication of the ACM, 42(1), 94-97.
Bakos, J. Y., dan
Kemerer, C. F. (1992). Recent Application of Economic Theory in Information
Technology Research. Decision Support
Systems, 8(5), 48-60.
Baskerville, R. L.
(1999). Investigating Information Systems with Action Research. Communication of the AIS, 2(19).
Baskerville, R. L., dan
Myers, M. D. (2002). Information Systems as A Reference Discipline. MIS Quarterly, 26(1), 1-14.
Davis, G. (2000). Information
Systems Conceptual Foundations: Looking Backward and Forward. Dalam R.
Baskerville, J. Stage & J. DeGross (Eds.), Organizational and Social Perspectives on Information Technology
(pp. 61-82). Boston: Kluwer.
Davis, G. B., Gorgone, J.
T., Couger, J. D., Feinstein, D. L., dan Longenecker, H. E. (1997). Model Curriculum and Guidelines for
Undergraduate Degree Programs in Information Systems. Association for
Computing Machinery, Association for Information Systems, Association of
Information Technology Professionals.
Fiztgerald, B., dan
Howcroft, D. (1998). Toward Dissolution of the IS Research Debate: From
Polarization to Polarity. Journal of
Information Technology, 13, 313-326.
Frankfort-Nachmias, C.,
dan Nachmias, D. (1996). Research methods
in the social sciences (5 ed.). London: Arnold.
Hadi, S. (1997). Metodologi Research (Vol. 1). Yogyakarta: Andi Offset.
Keen, P. G. W. (1980). Reference Disciplines and A Cumulative
Tradition. Paper presented at the the First International Conference on
Information Systems, Philadelphia, PA.
Lee, A. S. (1991).
Architecture as A Reference Discipline for MIS. In H.-E. Nissen, H. K. Klein
& R. A. Hirschheim (Eds.), Information
Systems Research: Comtemporary Approaches and Emergent Traditions
(573-592). Amsterdam: North-Holland.
Marble, R. P. (2000).
Operationalising the implementation puzzle: an argument for eclecticism in
research and in practice. European
Journal of Information Systems, 9, 132-147.
March, S. T., dan Smith,
G. F. (1995). Design and Natural Science Research on Information Technology. Decision Support Systems, 15, 251-266.
Mendelson, H., Ariav, G.,
DeSanctis, G., dan Moore, J. (1987). Competing
Reference Disciplines for MIS Research. Paper presented at the Eighth
International Conference on Information Systems, Pittburgh, PA.
Myers, M. D. (1999).
Investigating Information Systems with Ethnographic Research. Communication of the AIS, 2(23).
Nawawi, H., dan Martini,
M. (1994). Penelitian Terapan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nazir, M. (1988). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Nunamaker, J. F., Jr.,
Chen, M., dan Purdin, T. D. M. (1991).
Systes Development in Information Systems Research. Journal of Management Information Systems, 7(3), 89-106.
Orlikowski, W., dan
Baroudi, J. (1991). Studying information technology in organizations: research
approaches and assumptions. Information
Systems Research, 2(1), 1-28.
Sekaran, U. (1992). Research Methods for Business: A
Skill-Building Approach (2 ed.). New York: John Willey & Sons.
Simonsen, J., and F.
Kensing (1997). Using Ethnography in Contextual Design. Communication of The ACM, 40(7), 36-42)
Suriasumantri, J. S.
(ed.). (1992). Ilmu dalam Perspektif.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Swanson, E. B., dan
Ramiller, N. C. (1993). Information Systems Research Thematics: Submissons to a
New Journal, 1987-1992. Information
Systems Research, 4(4), 299-330.
Tashakkori, A., dan
Teddlie, C. (1998). Mixed methodology:
combining qualitative and quantitative approaches. Thousand Oaks: Sage
Publications.
van Dalen, D. B. (1992).
Ilmu-ilmu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial: Beberapa Perbedaan. Dalam J. S.
Suriasumantri (Ed.), Ilmu dalam
Perspektif (134-139). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Walsham, G. (1995). Intrepretive Case
Studies in IS Research: Nature and Method.
European
Journal on Information Systems, 4, 74-81.